Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Legenda dari Jepang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Legenda dari Jepang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Agustus 2012

Legenda dari Jepang : Kakek yang Membuat Bunga-Bunga Bermekaran

Pada zaman dahulu kala, di sebuah tempat di Jepang, hiduplah sepasang kakek dan nenek yang baik hati. Pasangan itu tidak memiliki anak.
Pada suatu malam saat turun hujan, mereka mendengar sesuatu di luar pintu rumah mereka. Kakek dan nenek itu membuka pintu dan menemukan seekor anak anjing disana. Anak anjing itu basah kuyup, menggigil dan mengkaing-kaing dengan menyedihkan.
Pasangan kakek dan nenek itu kemudian memasukkan si anak anjing ke dalam rumah, menyalakan api di perapian irori dan menghangatkan anak anjing itu dan juga memberinya bubur. Pasangan kakek dan nenek itu miskin, tetapi mereka merawat dan membesarkan si anak anjing dengan penuh cinta dan kasih sayang. Mereka mengajak anak anjing itu kemana saja mereka pergi, baik itu ke ladang maupun ke pegunungan. Anak anjing itu pun tumbuh semakin besar dan besar.
Pada suatu hari saat sang kakek sedang membajak ladangnya, si anjing berhenti di suatu tempat, menggonggong dan mulai menggali dengan kaki depannya. Sang kakek yang keheranan juga ikut menggali, dan…
Ia mememukan kepingan-kepingan koin emas di tanah. Ada yang besar dan ada juga yang kecil. Pasangan kakek dan nenek gembira sekali dan membagikan koin-koin emas itu dengan tetangga-tetangganya. Seorang pria tua yang jahat melihat peristiwa itu dan berkata, “Pinjamkan anjingmu kepadaku!”
Sang kakek yang baik hati sebenarnya tidak mau meminjamkan anjingnya, tetapi ia tidak bisa mengatakan tidak. Dan ia pun meminjamkan anjingnya kepada kakek yang jahat itu.
Kakek yang jahat itu menendang si anjing dan berkata, “Katakan kepadaku, dimana ada harta terpendam?!”
Karena tendangan kakek jahat itu, si anjing mengkaing kesakitan.
“Kau memberitahu aku agar menggali disini, bukan?!” Si kakek jahat itu menggali tanah. Tetapi ia hanya menemukan sampah. Karena marah besar, si kakek jahat pun membunuh anjing itu dan menguburnya.
Kemudian sang kakek yang baik hati datang. “Dimana anjingku?”

Sang kakek yang jahat menjawab,”Aku membunuh binatang tak berguna itu dan telah menguburnya.”
Kakek yang baik hati merasa teramat sangat sedih. Kakek dan nenek yang baik hati itu bersama-sama menanam sebatang pohon di tempat dimana anjing mereka dikuburkan. Pohon itu tumbuh tinggi dan semakin tinggi.
Tetapi pada suatu hari di hari badai, petir menyambar pohon itu dan merobohkannya. Sang kakek menggunakan kayu dari pohon itu untuk membuat lesung. Ia menaruh beras ketan di dalam lesung itu untuk membuat kue ketan dan menumbuk beras ketan itu. Kemudian…
Ternyata kepingan-kepingan koin emas besar dan kecil berjatuhan keluar dari lesung itu. Si kakek jahat mendengar hal ini dan kali ini ia berhasil meminjam lesung tersebut. Kakek jahat itu menumbuk beras ketan untuk membuat kue ketan tetapi serangga menjijikan dan sampah-sampah berjatuha keluar dari lesung itu. Kakek jahat itu marah dan membakar lesung tersebut menjadi abu.
Kemudian datanglah kakek yang baik hati dan meminta kakek jahat untuk mengembalikan lesungnya. Kakek yang jahat itu berkata, “Aku sudah membakar lesungmu menjadi abu. Kalau engkau menginginkan abunya, kau boleh bawa pulang.”
Kakek yang baik hati meletakkan abu itu di atas tampah dan membawanya pulang. Di tengah perjalanan pulang, angin kencang bertiup dan sebagian abu itu beterbangan dan mengenai sebuah pohon yang sudah mati. Saat itulah hal yang menakjubkan terjadi.
Ya, menakjubkan! Pohon yang sudah mati itu mulai berbunga! Saat itu, seorang bangsawan lewat dengan rombongannya. Kakek yang baik hati itu berteriak, “Aku adalah kakek yang memekarkan bunga! Aku akan membuat pohon-pohon yang sudah mati berbunga lagi.” Sang kakek pun menebarkan abu itu ke udara. Tak terhitung bunga yang mekar di pohon-pohon yang sudah mati. Dan sang bangsawan pun dengan senang hati memberikan hadiah yang banyak sekali kepada kakek itu.
Kakek jahat melihat kejadian itu dan meniru sang kakek yang baik hati dengan menggenggam abu dan melemparkannya ke sebuah pohon mati. Tetapi abu itu mengenai mata sang bangsawan dan para pengiringnya. Sang bangsawan marah dan memasukkan kakek jahat itu ke dalam penjara.

(Cerita di di Bacakan di Radio NHK World Edisi 3 April 2012)

Jumat, 10 Agustus 2012

Legenda dari Jepang: Penggilingan yang Mengeluarkan Garam

Pada zaman dahulu kala, di suatu daerah, hiduplah dua orang lelaki kakak beradik yang miskin. Sang kakak baik hati, sementara adiknya kikir dan jahat. Bila ada seseorang kelaparan, sang kakak rela tidak makan demi memberi makan orang yang kelaparan itu. Sementara adiknya, menimbun uang dan makanannya dan tidak pernah memikirkan untuk memberi kepada orang lain.
Pada suatu hari kemarau di musim panas, daerah itu dilanda kekeringan. Palawija di ladang-ladang tidak tumbuh dengan baik dan penduduk desa kebingungan harus bagaimana. Sang kakak membagikan makanan miliknya yang sedikit kepada orang lain sehingga ia sendiri tidak mempunyai apa-apa lagi untuk dimakan. Kemudian ia pergi kepada adiknya meminta untuk meninjamkannya makanan. Akan tetapi, sang adik menampiknya.
Katanya, “Salah sendiri kau membagikannya kepada orang lain. Aku tidak punya beras untuk dipinjamkan kepadamu.”
Sang kakak tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan langkah berat, ia pun berjalan pulang. Tetapi tiba-tiba seorang kakek berjanggut putih panjang muncul entah dari mana.
“Sejak dulu, kau selalu berbaik hati kepada orang lain, maka aku akan memberikanmu ini.”
Setelah berkata demikian, kakek itu memberikan sang kakak penggilingan kecil yang terbuat dari batu. Katanya lagi, “Kalau kau memutar penggilingan batu ini ke kanan, maka penggilingan ini mengeluarkan apapun yang kau minta. Dan kalau kau memutarnya ke kiri, maka ia akan berhenti.” Lalu kakek itu menghilang.
Sang kakak membawa penggilingan batu itu ke rumah. Dan ia mencoba memutarnya sambil berkata, “Beras, beras, keluarlah!”

Dan, ajaib! Beras keluar dari penggilingan batu itu. Dengan begitu, sang kakak mendapatkan apapun yang ia inginkan. Ia juga mendapatkan rumah bagus yang keluar dari penggilingan. Ia lalu mengundang penduduk desa ke sebuah perjamuan makan dan mereka pun berpesta pora.
Di penghujung acara perjamuan makan itu, sang kakak meminta penggilingan batu untuk mengeluarkan gula-gula sebagai bingkisan untuk dibawa pulang oleh para tamunya. Sang adik yakin, kakaknya menyembunyikan sesuatu. Karena itu, ia diam-diam mengikuti kakaknya dan ia melihat kakaknya mendapatkan berbagai macam benda dari penggilingan batu itu.
Setelah perjamuan makan selesai dan sang kakak tertidur, adiknya mengambil penggilingan batu itu bersama gula-gula yang ada dan ia berlari keluar dari rumah kakaknya. Ia berlari ke tepi pantai, melompat ke dalam perahu kecil dan mendayungnya ke laut. Ia berpikir, ia dapat pergi ke suatu daratan yang jauh dan tinggal disana, mendapatkan semua yang ia inginkan sebanyak yang ia mau dari penggilingan itu.
Setelah mendayung beberapa lama, ia pun merasa lapar. Karena itu ia pun memakan gula-gula yang ia bawa dari rumah kakaknya. Tak lama kemudian, ia mulai merasa ingin sesuatu yang asin. Karena itu, ia memutar penggilingan batu dan meniru kakaknya mengatakan, “Garam, garam, keluarlah!”
Dan, ajaib! Garam keluar dari penggilingan batu itu. Tak lama, perahunya pun menjadi penuh dengan garam. Ia panik da berteriak, “Berhenti! Berhenti!”
Akan tetapi, meskipun ia berseru dan berteriak, garam terus saja keluar dari penggilingan batu itu. Perahu yang keberatan beban garam itu pun akhirnya tenggelam bersama dengan lelaki kikir yang jahat tersebut.
Dan konon, sampai sekarang, di dasar laut, penggilingan batu itu masih berputar dan mengeluarkan garam. Dan itulah mengapa air laut asin.

[Cerita ini dibacakan di Radio NHK World Edisi Selasa, 31 Juli 2012]

Legenda dari Jepang: Istri dalam Lukisan

Pada zaman dahulu kala, ada seorang penebang kayu yang tinggal di pegunungan. Ia menikahi seorang gadis yang sangat cantik. Saking menawannya sang istri, penebang kayu itu selalu menatapnya terpesona. Ia tidak dapat jauh-jauh dari istrinyameskipun hanya sesaat. Lelaki itu tidak dapat bekerja dengan semestinya.
Istrinya yang khawatir berkata, “Aku akan menggambar diriku untukmu. Bawalah lukisannya bersamamu, dan pergilah ke pegunungan untuk bekerja.”
Ia pun mengambil selembar kertas dan dengan cekatan menggambar wajahnya sendiri. Saking miripnya lukisan itu dengan istrinya, sampai-sampai seolah-olah lukisan itu terlihat berbicara.
Penebang kayu itu dengan senangnya membawa lukisa itu ke pegunungan dan menempatkannya di tempat terdekat ketika ia menebang pepohonan. Ia menebang, lalu memandangi lukisan sang istri, kemudian menebang pohon lagi, dan memandangi lukisannya lagi.
Tapi tiba-tiba angin kencang berhembus diantara pepohonan. Angin kencang itu meniup lukisannya terbang dan membawanya pergi.
“Hei, tunggu! Tunggu aku!” penebang kayu itu berlari mengejar lukisan istrinya namun ia tidak bisa menangkapnya.
Lukisan itu terbang terbawa angin hingga jauh ke benteng penguasa daerah itu. Sang penguasa, dalam sekejab melihat lukisan itu langsung menyukai wanita yang ada di dalam gambarnya. Ia kemudian memerintahkan bawahannya untuk pergi dan mencari wanita dalam lukisan itu dan membawa wanita itu kepadanya. Penguasa itu berkata, “Aku akan menjadikannya istriku.”
Anak-anak buah penguasa itu akhirnya berhasil melacak keberadaan istri sang penebang kayu, dan menyatakan ia akan dibawa ke benteng.
Sambil berurai air mata, istri penebang kayu itu memberikan satu benih buah persik kepada suaminya seraya berkata, “Setelah tiga tahun, pohon ini akan berbuah. Datanglah ke benteng untuk menjual buah ini. Datanglah, jangan sampai tidak!”

Lalu para anak buah si penguasa membawanya pergi ke benteng. Si penebang kayu merasa sangat terpukul. Tetapi beberapa lama kemudian, ia menanam benih buah persik itu seperti yang dipesankan oleh istrinya.
Tiga tahun berlalu, pohon persik itu akhirnya berbuah. Dan seperti yang pernah dikatakan istrinya, penebang kayu itu kemudian berangkat menuju ke benteng untuk menjual buah-buah persiknya.
Sementara itu, sang penguasa memaksa wanita itu menjadi istrinya. Namun wanita itu sama sekali tidak pernah tersenyum selama tiga tahun terakhir. Sang penguasa tidak tahu apa yang harus dilakukannya.
Lalu tiba-tiba mereka mendengar teriakan penjual buah persik, “Persik! Persik! Ayo, beli buah persik!”
Mendengar suara suaminya, wanita itu tersenyum gembira. Sang penguasa merasa senang dan mengizinkan penjual buah persik itu memasuki bentengnya. Ia memerintahkan penjual itu untuk kembali mengeluarkan teriakan menjual barang dagangannya.
“Persik! Persik! Ayo, beli buah persik!”
Wanita itu kembali tersenyum gembira karena melihat suaminya lagi. Sang penguasa merasa sangat bahagia. Penguasa itu yang ingin membuat wanita tersebut tersenyum kemudian meminta si penjual buah persik untuk bertukar pakaian dengannya. Sang penguasa yang kini mengenakan pakaian penjual buah persik melihat istrinya tersenyum, ia pun merasa sangat senang. Penguasa itu lalu berjalan keluar benteng dengan gembira, dengan masih mengenakan pakaian si penjual buah persik. Penjaga gerbang yang tidak mengetahui apa yang terjadi berpikir si penjual buah persik itu akan pulang. Lalu ia menutup gerbang benteng.
Beberapa saat kemudian, sang penguasa berusaha untuk masuk kembali ke dalam bentengnya namun penjaga gerbang mengusirnya dan menyebutnya penjual buah persik yang mencurigakan.
Sementara di dalam benteng, si penebang kayu akhirnya hidup sebagai penguasa benteng itu bersama dengan istrinya yang cantik. Konon, mereka hidup bahagia selamanya.

[Cerita ini dibacakan di Radio NHK World Edisi Selasa, 7 Agustus 2012]

Legenda dari Jepang: Kintaro

Pada zaman dahulu kala, di pedalaman di gunung Ashigara di provinsi Sagami yang sekarang dikenal sebagai provinsi Kanagawa, hiduplah seoarng anak laki-laki bernama Kintaro yang tinggal bersama ibunya. Kintaro gagah dan sehat. Ia selalu bermain dengan binatang-binatang di gunung itu. Ia suka beradu lari dengan kelinci, beradu cepat memanjat pohon dengan kera, atau beradu sumo bersama beruang. Ketika itu ia belajar dari binatang-binatang tersebut tentang tumbuhan yang bisa dijadikan obat atau kacang dan buah yang aman dimakan. Ibu kintaro mengajarkannya cara membaca, menulis dan berhitung. Kintaro bukanlah sekedar anak laki-laki yang gagah dan kuat. Tetapi ia juga baik hati dan bijaksana.
Pada suatu hari, Kintaro dan kawan-kawan binatangnya sedang berjalan-jalan di gunung itu dan sampailah mereka di sebuah jurang di atas air terjun gunung. Waktu itu hari hujan, dan arus sungai mengalir kencang dan cepat.
Binatang-binatang itu berkata, “Kalau arus sungai seperti ini, kita tidak akan bisa menyeberang.”
Kintaro pun mulai mendorong sebuah pohon raksasa yang tumbuh di tepi sungai. Pohon raksasa itu patah dan ambruk hingga mencapai tepian di seberang sungai menjadi semacam jembatan.
Ternyata ada seseorang yang mengamati semuanya dari balik pohon, yaitu seorang ksatria samurai dari kota. Ksatria samurai itu sedang berkeliling di gunung tersebut dengan perintah dari atasannya agar mencari seorang anak yang kuat untuk dijadikan anak buah. Samurai itu melihat Kintaro dan terkesan pada pandangan pertama. Ia lalu menemui ibu Kintaro dan meminta izin kepadanya untuk membawa Kintaro ke kota.
Ibu Kintaro lalu menjawab, “Kami memang berasal dari keluarga samurai bernama Sakata. Tapi suami saya meninggal dan itulah kenapa kami tinggal di pedalamn hutan ini. Silahkan, bawalah putera saya ke kota dan jadikan ia seorang samurai yang hebat.”
Kintaro pun pergi ke kota dan menamai dirinya menjadi Sakata no Kintoki, dan menjadi seorang samurai yang hebat.


[Cerita ini dibacakan di Radio NHK World Edisi 13 Maret 2012]

Legenda dari Jepang: Hartawan Jerami

Pada zaman dahulu kala, di suatu tempat di Jepang, hiduplah seorang petani muda yang miskin. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sehingga ia hidup sebatang kara. “Sekarang karena aku hanya sendirian, tinggal di rumah ini percuma saja. Aku harus pergi ke suatu tempat untuk mencari kerja, menjadi orang dan hidup mapan,” begitulah pikir si pemuda.
Ia memandangi seisi rumahnya dan hanya menemukan seikat jerami. Pemuda itu meninggalkan rumah sambil membawa seikat jerami.
“Ah, bahkan jerami ini pun adalah hartaku dan aku tidak bisa meninggalkannya. Aku akan membawanya bersamaku.”
Si pemuda berjalan menyusuri jalanan di kaki sebuah gunung. Kemudian ia berjumpa dengan seorang pembakar arang yang sedang membuat arang. Si pembakar arang membutuhkan jeraminya.
“Maukah kau menjual jeramimu? Aku kehabisan jerami untuk mengikat bongkahan-bongkahan arangku, dan aku bingung harus bagaimana.”
“Oh, kalau begitu, silahkan pakai jeramiku.”
Si pembuat arang langsung menolak. “Ah, tidak, tidak, tidak! Aku tidak bisa menerimanya dengan cuma-cuma. Ada arang disini, jadi ambillah ini sebagai imbalan untuk jerami ini.”
“Aku tidak butuh arang, tapi karena engkau telah baik hati menawarkannya kepadaku, aku akan menerimanya.”
Setelah berkata demikian, pemuda tersebut memasukkan arang ke dalam sebuah keranjang dan melanjutkan perjalanannya.
Beberapa lama kemudian, ia bertemu dengan seorang pandai besi yang tengah membuat sebilah pedang. Si pandai besi melihat pemuda itu lewat dan memanggilnya.
“Hei, kau disana! Apakah yang kau bawa itu arang?”
“Ya, betul.”

“Bolehkah aku meminta arangmu? Aku sedang membuat pedang. Sekarang sudah hampir selesai, tapi aku kehabisan arang.”
Pemuda itu memberi arangnya kepada si pandai besi dengan berkata, “Tentu saja. Tidak apa-apa.”
Dan pandai besi itu gembira sekali. “Terima kasih, aku terbantu sekali. Sekarang, aku bisa menyelesaikan pedang ini . Aku ingin memberi sesuatu untukmu sebagai imbalannya. Tapi, aku tidak punya sesuatu yang istimewa, dan ada beberapa pedang disana. Jadi pilihlah yang kau suka.”
“Baiklah. Kalau begitu, aku ambil yang ini.” Pemuda itu mengambil sebilah wakizashi atau pedang pendek dan melanjutkan perjalanannya.
Beberapa waktu kemudian, ia berpapasan dengan seorang ksatria samurai yang menunggang kuda. Samurai itu melihat pedang pendek di pinggang pemuda itu.
“Hei, kau pengembara. Pedang pendekmu kelihatannya bagus sekali. Bolehkah aku memilikinya? Aku punya pedang utama, tapi tidak punya pedang pendek pelengkapnya. Berapa harganya?”
“Tidak, tidak! Pandai besi disana memberikanku pedang ini dengan cuma-cuma. Semua berawal dari seikat jerami. Aku menukarnya dengan arang, dan arang itu ku tukar dengan pedang di pandai besi. Jadi, kau tidak perlu membayarku.”
Mendengar hal itu, samurai tersebut sangat terkesan. “Kau pria yang sangat jujur. Banyak orang di dunia yang akan menipu untuk merebut uangmu, tapi kau mengatakan kepadaku aku tidak perlu membayarmu. Aku akan pergi ke medan perang dan mungkin akan mati. Aku punya seorang anak dan penerus di rumah. Tapi dia masih muda dan lemah. Jika aku mati, maukah kau menjadi penerusku dan merawat putraku? Jika aku kembali dengan selamat, aku akan menjadikanmu penerus keluargaku.”
Samurai itu turun dari kuda, menulis surat pada saat itu juga di tempat itu, dan menyerahkannya kepada si pemuda. “Bawalah surat ini dan tunjukkan kepada keluargaku. Tidak akan ada yang menentangnya.”
Pemuda itu menerima surat tersebut dan pergi ke rumah yang ditunjukkan oleh samurai. Rumah itu megah sekali. Si pemuda menunjukkan surat sang samurai kepada keluarganya dan mereka menyambutnya.
“Kami tidak keberatan. Tinggallah bersama kami. “
Dan demikianlah. Pemuda itu pun menjadi penerus keluarga samurai. Samurai yang telah mempercayakan segalanya kepada si pemuda tewas di medan perang dan konon pemuda itu menjadi samurai yang hebat.

[Cerita ini dibacakan di Radio NHK World Edisi 28 Februari 2012]

Legenda dari Jepang : Nasi Kepal Yang Menggelinding

Dahulu kala, hiduplah sepasang kakek nenek yang baik hati. Suatu hari, sang kakek pergi ke kegunungan untuk mengumpulkan kayu-kayu bakar. Waktu makan siang tiba. Sang kakek pun membuka bekal makan siangnya dan ketika ia akan memakan satu nasi kepalnya tanpa sengaja ia menjatuhkannya ke tanah.
Nasi kepal itu menggelinding dan jatuh ke dalam sebuah lubang. Dari dalam lubang, terdengar nyanyian yang dinyanyikan oleh suara-suara mungil yang lucu. Katanya begini, “Omoshubi kororin su tong tong…” yang artinya, “Nasi kepal menggelinding ding ding…”
Karena penasaran, sang kakek lalu mengambil lagi satu nasi kepal. Kali ini, dengan sengaja ia gelindingkan ke dalam lubang.
Dan nyanyian itu pun terdengar lagi. “Omoshubi kororin su tong tong… Nasi kepal menggelinding ding ding…”
“Wah, lucu sekali!” kata si kakek. Kemudian ia menggelindingkan kotak makan siangnya . Dan betapa terkejutnya ia mendengar nyanyian yang keluar.
“Juuba kurorin su tong tong…” Yang artinya, “Kotak makanan menggelinding ding ding…”
Setelah itu, karena tidak ada lagi yang bisa digelindingkan, maka sang kakek sendiri loncat masuk ke dalam lubang.
Lalu terdengar lagi nyanyian. “Ojii-san kororin sut tong tong…” Yang artinya, “Kakek menggelinding ding ding…” Dan ternyata nyanyian itu dinyanyikan oleh sejumlah tikus kecil. Tikus-tikus kecil itu lalu berkata serempak, “Tuan, terima kasih atas nasi kepalnya yang enak. Izinkan kami membalas kebaikanmu dengan merayakan pesta. “
Tikus-tikus itu pun sibuk mengolah beras ketan menjadi kue mochi, dan menyiapkan pesta yang meriah. Mereka menjamu sang kakek dengan masakan yang lezat dan sang kakek makan hingga kekenyangan. Saat sang kakek hendak pulang, tikus-tikus itu berkata kepadanya, “Tuan, kami ingin memberimu hadiah untuk dibawa pulang. Yang mana yang Anda pilih, kotak besar atau kotak kecil?”

Sang kakek lalu menjabwa, “Ya, karena aku sudah tua dan hanya bisa membawa kotak yang kecil, kalau tidak keberatan, aku pilih kotak kecil itu saja.” Dan sang kakek pun pulang dan membawa kotak kecil yang dihadiahkan yang ternyata penuh dengan koin-koin emas.
Tetangganya yang tamak mendengar cerita ini dan memutuskan untuk juga pergi ke pegunungan. Ia menemukan lubang yang dimaksud dan ia pun menggelindingkan satu nasi kepal ke dalam lubang. Dari dalam lubang ia mendengar nyanyian , “Omoshubi kororin sut tong tong… Nasi kepal menggelinding ding ding…”
“Hmm, sejauh ini kelihatanyya berhasil. Kalau begitu, aku melompat saja masuk ke dalam lubang,” demikian dikatakan si tetangga yang tamak itu. Maka ia pun menggelinding ke dalam lubang. Tikus-tikus kemudian berkata, “Tuan, terima kasih untuk nasi kepalnya yang lezat. Kami ingin menghadiahkan sebuah kotak sebagai balasan atas kebaikanmu. “
Akan tetapi karena lelaki tua yang tamak itu menginginkan kedua kotak, yang besar dan yang kecil, ia pun memutuskan untuk menakut-nakuti tikus-tikus itu dengan mengeluarkan suara seperti kucing.
Meong… meong…
Saat itu juga, dinding-dinding lubang itu roboh dan langit-langitnya runtuh. Hampir menimbun laki-laki tua yang tamak itu. Dan dengan susah payah, ia meloloskan diri keluar dari lubang dan tertatih-tatih pulang ke rumah untuk menyelamatkan diri.

[Cerita ini Dibacakan di Radion NHK World Edisi 14 Frebruari 2012]